Unordered List

6/recent/ticker-posts

PAUD Inklusi Cerdas, Guru Rela Mengajar Tanpa Dibayar.

INDONESIA, kontak24jam.Net -  Beberapa anak nampak berlarian di halaman Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sebagian dari mereka sibuk menaiki gundukan tanah yang ada di depan kelas mereka.

Secara kasat mata, mereka seperti anak-anak kebanyakan yang banyak bergerak dan bermain main. Namun jarang ada yang menyadari bahwa sebagian murid dari PAUD yang terletak di jalan Kolonel Sugiono 17 Kecamatan Banyuwangi tersebut adalah anak-anak kebutuhan khusus.

"Saya sengaja letakkan tumpukan pasir itu di halaman agar anak-anak bisa bermain dan melatih mereka bekerja sama dengan temannya saat naik ke atas pasir," jelas Patmawati, Kepala Sekolah sekaligus pendiri PAUD Inklusi Cerdas Banyuwangi Senin (29/2/2016) sambil tersenyum.

Apalagi, dari 158 siswa, ada 30 anak muridnya yang kebutuhan khusus dengan berbagai macam jenis mulai autis hingga keterlambatan bicara.

Ibu satu anak tersebut bercerita bahwa PAUD yang ia dirikan sejak tahun 2008 tersebut dibangun dengan modal pribadi dan awalnya hanya itu memfasilitasi anak-anak kecil di rumahnya untuk bermain-main.

"Ada 9 murid yang pertama kali saya terima. Ternyata ada yang tuna rungu ada juga yang susah terlambat belajar. Kalau orang bilang enggak normal. Untuk mainanannya saya pakai mainan anak saya dan pakai barang bekas seperti boneka peraga. Saya ingat waktu itu kertas origaminya juga kertas bekas fotocopy yang saya minta depan rumah," jelasnya dengan mata berkaca-kaca.

Kabar jika sekolahnya menerima anak anak kebutuhan khusus berkembang dari mulut ke mulut sehingga jumlah murid kebutuhan khusus semain banyak. Apalagi ia menggratiskan biaya sekolah untuk muridnya.

Untuk kebutuhan sehari-hari dia meletakkan kotak amal di depan kelas dan membebaskan wali murid untuk mengisinya berapapun jumlahnya. Konsep kotak amal tersebut dilakukan agar wali murid tidak tertekan dengan kewajiban membayar iuran.

"Mau bayar atau tidak. Mau kasih berapapun tidak pernah kami bebankan. Bebas. Alhamdulillah semua cukup untuk biaya operasional apalagi para guru tidak ada yang dibayar. Mereka semua adalah relawan," ujar perempuan yang akrab disapa Bu Pat ini.

Saat ini ada 29 guru yang mendampingi 158 murid dengan 30 anak kebutuhan khusus. Mereka kebanyakan adalah mahasiswa dan wali murid yang peduli pada pendidikan anak anaknya serta dua terapi yang datang berkala untuk memberikan dampingan kepada muridnya.

Awalnya wali murid tersebut hanya mengantar anaknya namun kemdudian tertarik untuk mengajar.




PENULIS,  Herry.Akj

Posting Komentar

0 Komentar