Unordered List

6/recent/ticker-posts
                           

Larangan Ekspor Batubara Di Indonesia Soroti Media Asing

 

Kontapk24jam.Net  -  Media asal Perancis, AFP, menyoroti Indonesia yang memutuskan larangan ekspor batubara pada Januari.

AFP mewartakan, larangan ekspor bara tersebut bertujuan untuk menjaga pasokan kepada pembangkit listrik domestik.

Indonesia terancam krisis energi listrik jika pasokan batu bara tidak diutamakan ke pembangkit di dalam negeri.

International Energy Agency (IEA) melaporkan bahwa permintaan global untuk batu bara memecahkan rekor pada 2021.

Rekor permintaan yang tinggi dari batu bara kemungkinan akan bertahan hingga 2022.

Januari 2021, AFP mewartakan bahwa Indonesia mengekspor hampir 30 juta ton batu bara menurut Badan Pusat Statistik Larangan ekspor diberlakukan setelah produsen batu bara dilaporkan gagal memenuhi Domestic Market Obligation (DMO).

DMO merupakan aturan yang dibebankan kepada perusahaan batu bara yang harus memasok 25 persen dari produksi tahunannya ke PLN.

Media asal Inggris, Reuters, turut mewartakan larangan ekspor batu bara untuk sementara waktu yang dikeluarkan oleh Indonesia.

Reuters melaporkan, Indonesia merupakan pengekspor batu bara termal terbesar di dunia, mengekspor sekitar 400 juta ton pada 2020.

Pelanggan terbesar batu bara Indonesia adalah China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Mengutip pernyataan Ridwan, Reuters menyebutkan bahwa jika ekspor batu bara tidak diterapkan, hampir 20 pembangkit listrik di Indonesia akan padam.

“Jika tindakan strategis tidak diambil, mungkin akan terjadi pemadaman listrik yang meluas,” ujar Ridwan.

Ridwan mengatakan, pasokan batu bara untuk pembangkit listrik domestik masih bawah DMO untuk setiap bulannya. Sehingga pada akhir tahun 2021, stok batu bara mengalami defisit.

Seorang analis industri di Bank Mandiri Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma mengatakan kepada reuters bahwa larangan ekspor batu bara kemungkinan akan mendorong lonjakan harga batu bara global.

Karena Indonesia melarang ekpor batu bara secara temporer, Ahmad menuturkan pelanggan Indonesia mungkin beralih ke Rusia, Australia, atau Mongolia.

“Di tengah ketidakpastian global ini, pasar seringkali mencari mitra teraman,” kata Ahmad. dilansir Kompas.com Senin (3/1/22) (Red)

Penulis : Heriyanto

Posting Komentar

0 Komentar