Unordered List

6/recent/ticker-posts
                           

Batu Bara Akan Segera 'Kiamat, "Benarkah..?


KONTAK24JAM.NET -  Batu bara jadi sorotan dunia saat ini karena dianggap sebagai 'pelaku' pemanasan global. Untuk itu, negara-negara berkomitmen mengurangi pemakaiannya demi mencapai netralitas karbon (net zero emission) tahun 2050 dalam CPO26 bulan lalu. Apakah artinya batu bara akan segera 'kiamat'?  "Dilansir dari  CNBC Indonesia.

Hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim COP26 yang digelar di Glasgow, Skotlandia bulan November, menetapkan penghapusan batu bara secara bertahap dan mengakhiri subsidi untuk bahan bakar fosil, dengan langkah yang lebih dipermudah.

Komitmen tersebut mendesak banyak negara untuk dengan cepat meningkatkan penggunaan pembangkit listrik bersih, bersamaan dengan menghapuskan tenaga batu bara dan subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien.


"(COP26) menyerukan kepada para pihak untuk mempercepat pengembangan, penyebaran dan penyebaran teknologi dan penerapan kebijakan untuk transisi menuju sistem energi rendah emisi, termasuk dengan cepat meningkatkan pembangkit listrik bersih dan mempercepat penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara yang tidak berkurang. dan subsidi yang tidak efisien untuk bahan bakar fosil," bunyi draf COP26.

Keputusan ini yang membuat batu bara sebagai energi fosil diramal akan segera kiamat. Badan Energi Dunia (IEA) dalam "World Energy Outlook", memproyeksikan konsumsi dan produksi batu bara global turun secara bertahap ke level yang sangat rendah hingga 2050.

Namun dalam waktu dekat konsumsi batu bara diprediksi akan melewati rekor konsumsi tertinggi yang dicapai tahun 2013 pada tahun depan. Bahkan diprediksi mencapai rekor sepanjang masa dua tahun kemudian dengan konsumsi sebesar 8.031 ton.

Dari sisi pasokan, rekor produksi tertinggi sepanjang masa diprediksi akan terjadi pada tahun 2022. Pada tahun itu produksi akan mencapai sebesar 8.111 ton.

Skenario net zero emission yang disusun IEA menunjukkan hingga tahun 2030, konsumsi batu bara global akan turun sekitar 28,8% menjadi 3.786 ton batu bara ekuivalen (mtce) dari 5.317 mtce tahun 2020. Sedangkan produksi batu bara akan turun hingga 30% menjadi 3.786 mtce dari produksi tahun 2020 sebesar 5.462 mtce.

Kemudian pada tahun 2050, penggunaan batu bara di dunia jatuh lebih dalam hingga 77,6%. Pada tahun tersebut konsumsi batu bara akan mencapai1.189 mtce. Sementara itu, produksi diramal akan jatuh 78,2% ke jumlah yang sama dengan konsumsi batu bara tahun 2050.

Sekitar 80% dari produksi batu bara yang tersisa tahun 2050 akan diserap oleh program Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS). Program CCUS adalah metode kerja mengidentifikasi sumber emisi karbon, penangkapan karbon gas buang dari titik sumber, kompresi, penyaluran, penyimpanan karbon pada formasi geologi melalui Enhanched Oil Recovery (EOR), sampai kepada pemanfaatan karbon.

China merupakan negara konsumen sekaligus produsen batu bara terbesar di dunia. Mengacu data Statista, konsumsi batu bara di China mencapai 82,3 hexajoule dan berkontribusi terhadap 50,2% terhadap produksi global.

Maka dari itu, China berperan besar dalam program perubahan iklim dunia dengan mengurangi ketergantungan energi terhadap batu bara. Presiden China, Xi Jinping mengumumkan bahwa China bertujuan untuk mencapai puncak emisi CO2 sebelum 2030 dan mencapai netralitas karbon sebelum 2060. IEA memperkirakan emisi CO2 akan meningkat dan mencapai puncaknya sebelum tahun 2030 dan akan berangsur turun.

"Semakin cepat puncak emisi datang, semakin tinggi peluang China untuk mencapai netralitas karbon tepat waktu," kata IEA dalam laporan "Peta Netralitas Emisi Karbon China".

Sumber utama emisi China berasal dari sektor listrik yang menyumbang 48% emisi CO2 dari energi. Selanjutnya sektor industri menyumbang 36% emisi CO2, sektor transportasi menyumbang 8% dan sektor bangunan sebesar 5%.

Target China adalah pengurangan 18% emisi CO2 yang dihasilkan dan pengurangan 13,5% dalam penggunaan energi yang menghasilkan emisi CO2 selama periode 2021-2025.

IEA menilai jika target jangka pendek tersebut dipenuhi, maka emisi CO2 akan terus menurun dari tahun 2030. Emisi tersebut akan turun dengan stabil hingga tahun 2060 seiring dengan penggunaan energi fosil seperti batu bara yang jatuh.

Permintaan batu bara China diprediksi akan turun lebih dari 80% pada tahun 2060. Itu karena penggunaan batu bara untuk tenaga listrik akan digantikan oleh energi hijau.

Pada tahun 2060, kapasitas listrik yang berasal batu bara hanya sebesar 6,4 giga watt (GW) tahun 2060, turun 80% dari tahun 2020 sebesar 30,8 GW. (Red)

Posting Komentar

0 Komentar