Unordered List

6/recent/ticker-posts
                           

Tantangan Menjadi Guru Di SLB Autisma YPPA Padang.

 
Padang Kontak24jamNet -  Guru merupakan motivator penggerak pendidikan tanpa guru tidak akan lahir orang-orang hebat di negeri ini. Pilihan menjadi seorang guru akan mengemban tugas mulia tersirat keikhlasan. 

ketulusan, pengabdian tanpa batas dalam mencerdasarkan anak bangsa tercinta ini tak terkecuali anak berkebutuhan khusus. Menjadi guru akan dihadapkan dengan tugas-tugas menantang bagaimana peserta didiknya bisa menjadi lebih baik secara sikap, pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional itu sendiri.

 Guru anak berkebutuhan khusus tentunya mengemban tugas yang lebih ekstra lagi, karena mereka akan berhadapan dengan anak-anak dengan berbagai hambatan. Mulai dari ABK yang memiliki hambatan penglihatan, pendengaran, gangguan retardasi mental, sampai anak- anak dengan gangguan perilaku komunikasi dan perilaku. 

Guru yang dibutuhkan untuk ABK ini adalah guru pendidikan khusus yang  berlatar belakang tamatan pendidikan luar biasa yang sudah dibekali dengan ilmu pedagogik khusus anak luar biasa. Dalam penanganan ABK ini memerlukan multidisiplin ilmu lainnya seperti guru bisa bekerjasama dengan psikoloq, dokter anak, tenaga ahli ( terapi bicara, fisioterapi), dan bimbinan konseling. Semakin komplitnya hambatan seorang anak maka semakin perlu penanganan yang melibatkan berbagai pihak yang kompeten tersebut.

Salah satu tugas guru pendidikan luar biasa yang tentunya tidak ditemui pada guru-guru sekolah umum yaitu melakukan identifikasi-asesmen bagi peserta didiknya. Identifikasi asesmen sebagai tolak ukur dalam menetapkan program yang tepat sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, serta karakteristik peserta didik. 

Setiap aspek  baik menyangkut akademik, program khusus, atau pun sensori harus melalui tahapan identifikasi asesmen.

Menjadi guru bagi anak penyandang autis adalah guru yang harus siap dengan berbagai tantangan yang menantang, mengingat diantara mereka ada yang memiliki karakteristik seperti tantrum yang tiba-tiba saja bisa menyakiti dirinya sendiri dan orang lain misalnya melempar segala sesuatu yang ada di tangannya, menyerang, menggigit, mencakar. Situasi-situasi ini menuntut kesigapan guru untuk mengatasi perilaku yang muncul ini tanpa harus menyakiti fisik mereka.

Dalam dunia pendidikan sering terjadi guru berprilaku yang kurang baik kepada peserta didiknya seperti guru memukul siswa hal yang biasa kita dengar selama ini namun dalam menghadapi anak autis hal yang terbalik terjadi justru siswa yang menyakiti gurunya sebagai sasaran perilaku tantrumnya yang tidak terkendali, terjadi dengan begitu cepat sekali yang terkadang guru tidak sempat menghindar. 

Gangguan perilaku lainnya seperti ketakutan/berteriak ketika di bawa ke kamar mandi/tempat-tempat tertentu, menutup telingga ketika mendengar suara bel dan tidak suka keramaian serta lainnya. 

Saat mereka mengalami puberitas berbagai macam perilaku yang kurang wajar juga kerap terjadi, kebingungan yang terjadi pada dirinya saat menghadi perubahan tubuhnya juga menjadikan mereka dengan tingkah yang aneh dilihat orang lain. 

Guru yang tidak punya pengalaman dan tidak punya ilmu di bidangnya tentu akan menimbulkan kepanikan tersendiri menghadapi situasi ini. Guru tentunya tidak mungkin juga melakukan tindakan yang sama dengan siswa misalnya guru balik membalas memukul siswa yang pastinya bukan solusi yang tepat.

Pengalaman kami sebagai guru anak autis hal-hal seperti di atas sudah hal yang biasa terjadi atau dengan istilah sudah menjadi makanan kami sehari-hari. Adanya siswa yang menggigit tangan guru, memutar kepala guru, mencakar muka serta menjampak rambut dan membenturkan wajahnya ke guru. 

Pengalaman ini sungguh semakin membuat kami ingin membantu mereka ke luar dari dunianya dan perlahan bisa mengendalikan dirinya. Kesabaran dan keikhlasan serta motivasi untuk terus belajar adalah kunci utama untuk menjadi guru yang sesungguhnya. 


Ditulis Oleh Rini Yanti.S.Pd.


Posting Komentar

0 Komentar